Kelopak Mata Ketiga

sisa jaringan di pojok mata kita yang membuktikan kita punya nenek moyang reptil

Kelopak Mata Ketiga
I

Coba luangkan waktu sejenak besok pagi saat kita berdiri di depan cermin wastafel. Dekatkan wajah ke kaca, lalu perhatikan baik-baik bagian ujung mata kita yang dekat dengan hidung. Di sana, ada sebuah gumpalan daging kecil berwarna merah muda yang sering kali luput dari perhatian kita. Seumur hidup, kita membawa gumpalan kecil ini ke mana-mana. Pernahkah kita bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa benda kecil itu ada di sana? Apakah cuma hiasan? Atau sekadar tempat berkumpulnya kotoran mata saat kita tidur lelap? Sebenarnya, jika kita mau menelusuri asal-usul gumpalan kecil ini, kita sedang membuka sebuah pintu waktu. Pintu yang akan membawa kita mundur sangat jauh ke belakang, jauh sebelum manusia pertama kali belajar membuat api.

II

Di dalam dunia biologi evolusioner, ada satu aturan main yang cukup ketat: alam itu sangat pelit dan efisien. Alam tidak suka membuang-buang energi untuk merawat sesuatu yang tidak ada gunanya. Tubuh kita adalah mahakarya adaptasi yang sudah direvisi berkali-kali selama jutaan tahun. Namun, gumpalan merah muda di pojok mata kita ini sepertinya lolos dari proses penyuntingan alam yang kejam tersebut. Secara anatomis, jaringan kecil ini punya nama yang cukup elegan, yaitu plica semilunaris. Fungsi utamanya saat ini sebenarnya tidak terlalu dramatis. Ia hanya membantu mengalirkan air mata agar bola mata kita tetap lembap dan bisa berputar dengan mulus. Tapi, wujud aslinya di masa lalu jauh lebih epik dari sekadar saluran pelumas mata. Untuk memahami misteri ini, kita harus berhenti melihat diri kita sendiri dan mulai memperhatikan kerabat jauh kita di dunia hewan.

III

Mari kita perhatikan hewan di sekitar kita. Kalau teman-teman pernah melihat kucing yang sedang tidur setengah sadar, kadang ada selaput putih pucat yang tiba-tiba menutup mata mereka dari arah pinggir. Selaput ini jauh lebih jelas terlihat pada reptil seperti buaya, atau pada burung pemangsa seperti elang. Mereka punya semacam kacamata renang built-in pelindung ekstra yang bisa ditarik tutup. Nama ilmiahnya adalah nictitating membrane. Selaput ini sangat tipis, transparan, tapi luar biasa tangguh. Bagi buaya, organ ini memungkinkan mereka tetap bisa melihat tajam saat mengintai mangsa di bawah air yang keruh tanpa takut matanya kelilipan. Bagi burung elang, selaput ini melindungi mata mereka dari angin badai saat menukik tajam dari langit. Organ pelindung ini adalah alat survival tingkat tinggi. Lalu, apa hubungannya dengan gumpalan merah muda di mata kita yang diam dan tak bisa bergerak itu?

IV

Inilah fakta ilmiah yang menakjubkan: gumpalan merah muda di ujung mata kita itu adalah sisa yang menyusut dari selaput pelindung tersebut. Ya, kita punya kelopak mata ketiga. Ratusan juta tahun yang lalu, nenek moyang kita yang paling awal adalah makhluk bertulang belakang yang sangat mirip dengan reptil purba. Mereka hidup di lingkungan liar yang basah, berdebu, dan penuh ancaman fisik. Untuk bertahan hidup, mereka mutlak membutuhkan nictitating membrane ini. Namun seiring berjalannya waktu, garis keturunan kita berevolusi menjadi mamalia darat pelari. Lingkungan berubah. Kita mulai memiliki jari yang presisi untuk mengusap wajah secara refleks. Kelopak mata utama kita juga berevolusi untuk bisa berkedip lebih lincah demi menyapu kotoran. Secara biologis, kita tidak lagi membutuhkan selaput pelindung ekstra itu. Karena evolusi sering kali hanya membiarkan fitur yang tak terpakai menyusut daripada menghapusnya sama sekali, selaput tangguh itu akhirnya pensiun. Ia berubah menjadi organ vestigial, alias sisa anatomi dari masa lalu, yang kini sekadar nongkrong di pojok mata kita sebagai plica semilunaris.

V

Rasanya ada sesuatu yang sangat mendalam secara psikologis ketika kita menyadari fakta evolusi ini. Terkadang, sebagai manusia modern, kita terjebak dalam ilusi superioritas. Kita merasa berada di luar sistem alam, merasa terpisah dari hewan buas karena kita punya gawai, bahasa kompleks, dan gedung pencakar langit. Padahal, tubuh kita sendiri adalah sebuah museum sejarah berjalan. Gumpalan kecil di sudut mata itu adalah sebuah prasasti yang jujur. Ia mengingatkan bahwa kita sangat terhubung dengan segala sesuatu yang bernapas di bumi ini. Kita pernah berbagi cara bertahan hidup yang sama persis dengan buaya di rawa-rawa dan elang di udara. Jadi, besok pagi saat kita kembali menatap cermin, tataplah sudut mata itu dengan sedikit senyuman. Di sana tersimpan sejarah panjang perjuangan makhluk hidup, sebuah suvenir kecil peninggalan nenek moyang reptil kita yang masih setia menemani kita hingga hari ini.